Scroll untuk baca artikel
ADVERTORIALDAERAHSUDUT PARLEMEN

DPRD Samarinda Desak Perubahan Arah Kebijakan Kesehatan

136
×

DPRD Samarinda Desak Perubahan Arah Kebijakan Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Anhar.

Samarinda, Locerita.co – Lonjakan pembangunan fasilitas kesehatan di Kota Samarinda dalam beberapa tahun terakhir menuai sorotan dari kalangan legislatif. Meskipun rumah sakit baru dan alat medis canggih terus bermunculan, masih banyak warga yang mengeluhkan antrean panjang dan pelayanan yang kurang optimal. Kondisi ini memunculkan kritik tajam terhadap arah kebijakan kesehatan daerah yang dinilai terlalu menitikberatkan pada pembangunan fisik ketimbang upaya pencegahan.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, menyebutkan bahwa paradigma kebijakan kesehatan selama ini keliru karena cenderung bersifat reaktif.

“Kita bangga punya rumah sakit megah, tapi lupa bahwa yang lebih penting adalah membuat masyarakat tetap sehat dan tidak perlu ke rumah sakit,” katanya saat ditemui usai rapat kerja Selasa (20/5/2025).

Anhar menegaskan bahwa sistem kesehatan yang ideal adalah yang mampu menekan angka kesakitan, bukan sekadar memperbesar kapasitas penanganan pasien. “Rumah sakit yang selalu penuh itu bukan indikator keberhasilan, justru itu tanda bahwa kita gagal mencegah penyakit sejak awal,” ujarnya.

Ia mendorong Pemkot Samarinda untuk segera menyusun strategi preventif yang lebih terstruktur dan masif. Program seperti skrining kesehatan berkala, edukasi pola hidup sehat, hingga kampanye di lingkungan sekolah dan komunitas perlu digencarkan.

“Kita harus mulai dari hulu. Edukasi masyarakat soal kesehatan jauh lebih murah dan efektif dibanding terus bangun bangunan baru,” tutur Anhar.

Lebih lanjut, Anhar menyoroti perlunya integrasi lintas sektor dalam program kesehatan preventif. Ia menyarankan agar Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan organisasi kemasyarakatan turut dilibatkan dalam kampanye hidup sehat.

“Masyarakat harus dilibatkan aktif. Kesehatan itu bukan urusan rumah sakit saja, tapi budaya yang harus dibentuk bersama,” katanya.

Anhar juga mengingatkan bahwa beban berat yang ditanggung rumah sakit hari ini tidak bisa terus dijawab dengan membangun lebih banyak fasilitas.

“Kalau setiap ada lonjakan pasien solusinya selalu membangun, itu artinya kita tak pernah menyentuh akar masalah. Kita harus ubah pendekatannya dari kuratif ke preventif,” tegasnya.

Menurutnya, paradigma baru ini justru akan menghasilkan efisiensi besar dalam jangka panjang. Beban anggaran bisa ditekan, kualitas hidup masyarakat meningkat, dan tenaga kesehatan bisa lebih fokus memberikan layanan berkualitas. “Sistem yang berhasil bukan yang ramai pasiennya, tapi yang membuat warganya jarang sakit,” ucap Anhar.

Dengan kritik dan dorongan tersebut, Anhar berharap Pemkot Samarinda segera mengevaluasi arah kebijakan kesehatan yang ada.

“Sudah saatnya kita berpikir ke depan. Bukan hanya bangun gedung, tapi bangun kesadaran. Karena kesehatan bukan hanya soal fasilitas, tapi soal gaya hidup,” pungkasnya.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *