Scroll untuk baca artikel
DAERAH

Dispar Kaltim Perkuat Desa Wisata sebagai Fondasi Pariwisata Berkelanjutan

417
×

Dispar Kaltim Perkuat Desa Wisata sebagai Fondasi Pariwisata Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Kapal Wisata Harmony Berlayar di Sungai Mahakam/IST

LOCERITA.CO – Kapal Wisata Pesut Harmony meninggalkan Dermaga Wisata Pasar Pagi Samarinda pada Minggu, (9/12/2025) pukul 09.32 Wita. Suasana Sungai Mahakam yang tenang dan angin sungai yang bergerak lembut memberi latar damai bagi pelaksanaan Bincang-Bincang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diprakarsai Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim).

Sejak kapal bergerak, para jurnalis langsung memusatkan perhatian pada tema besar diskusi: “Desa Wisata sebagai Episentrum Generasi Emas: Mendorong Pariwisata Berkelanjutan dan Inklusif Melalui Pemberdayaan Pokdarwis dan Inovasi Digital.”

Desa Wisata Tunjukkan Ketahanan Saat Krisis

Kepala Dispar Kaltim Ririn Sari Dewi memulai penjelasan dengan menegaskan pentingnya desa wisata dalam menopang perekonomian warga. Menurutnya, desa wisata tampil sebagai sektor yang tetap bergerak selama pandemi Covid-19 ketika banyak sektor lain tertekan. Komunitas lokal mampu menjaga aktivitas ekonomi melalui kuliner, kerajinan, hingga jasa wisata berbasis rumah warga.

Untuk menggambarkan kondisi lapangan, Ririn memaparkan empat kategori desa wisata di Kaltim: rintisan, berkembang, maju, dan mandiri. Dari 105 desa rintisan, beberapa sudah meningkat menjadi desa wisata berkembang dan mendekati status maju.

Selain itu, Ririn menyoroti daya tarik Desa Wisata Pela, yang dikenal melalui pengalaman bertemu Pesut Mahakam, serta Desa Wisata Malahing di Bontang yang menawarkan kehidupan masyarakat pesisir sebagai atraksi budaya. Kedua desa menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat berkembang melalui partisipasi aktif komunitas.

Setelah menjelaskan capaian tersebut, Ririn menekankan perlunya konsistensi dan inisiatif lokal agar desa wisata terus tumbuh.

Pergub 35/2025 Menjadi Kerangka Pengembangan

Diskusi kemudian beralih pada landasan kebijakan. Ririn menjelaskan bahwa pemerintah provinsi menetapkan Peraturan Gubernur Nomor 35 Tahun 2025 sebagai pijakan pengembangan desa wisata secara terencana. Peraturan tersebut mengatur peta jalan pengembangan, tata kelola destinasi, serta pembagian peran antarpemangku kepentingan.

Sebagai pendekatan strategis, pemerintah menerapkan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan media. Lima unsur itu bekerja bersama untuk memperkuat destinasi, membangun produk kreatif, serta meningkatkan promosi desa wisata.

Untuk mempertegas peran setiap unsur, Ririn menegaskan bahwa media memegang peran kunci dalam memperluas jangkauan informasi. Publikasi yang akurat dan berkelanjutan mampu mendorong peningkatan kunjungan dan membuka pasar baru bagi desa wisata.

Potensi Sungai Mahakam dan Harapan Baru

Sambil diskusi berjalan, kapal terus menyusuri Sungai Mahakam. Pemandangan keramba ikan warga Loa Kulu, anak-anak yang melambaikan tangan, serta bangau putih yang berdiri di atas eceng gondok menghadirkan panorama khas sungai. Setiap sudut Mahakam memperlihatkan potensi wisata alam yang dapat menjadi bagian dari jejaring desa wisata.

Momentum perjalanan tersebut memperkuat keyakinan Dispar Kaltim bahwa desa wisata bukan hanya lokasi wisata, melainkan ruang pertumbuhan ekonomi yang dikelola komunitas. Ririn menegaskan perlunya desa wisata bertumpu pada budaya dan lingkungan lokal agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Setelah menjelaskan aspek tersebut, Ririn menambahkan bahwa desa wisata wajib memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga identitas sosial desa.

Generasi Muda dan Inovasi Digital Dorong Transformasi

Diskusi kemudian beralih pada peran generasi muda. Menurut Ririn, anak muda memiliki kemampuan adaptif yang sangat dibutuhkan dalam era digital. Mereka dapat memproduksi konten promosi, mengelola media sosial desa wisata, serta memperluas jangkauan informasi melalui berbagai platform digital.

Teknologi digital juga membuka ruang baru bagi desa wisata untuk memperkenalkan produk kreatif, aktivitas budaya, dan potensi lingkungan. Banyak desa yang sebelumnya kurang dikenal berhasil memperoleh perhatian publik karena kreativitas konten yang dihasilkan generasi muda.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Ririn menegaskan bahwa pemberdayaan pemuda bukan hanya mendukung promosi destinasi, tetapi juga membangun karakter wirausaha dan kemampuan manajemen komunitas.

Perjalanan Pulang dan Konsolidasi Komitmen

Menjelang sore, kapal Pesut Harmony berbalik arah menuju Samarinda. Angin sungai terasa lebih sejuk, sementara suasana diskusi berubah menjadi evaluasi santai antarjurnalis. Aroma makanan dari kedai kecil di dek atas menutup perjalanan dengan nuansa hangat.

Seluruh rangkaian kegiatan itu menegaskan komitmen Dispar Kaltim untuk memperkuat desa wisata sebagai pilar pariwisata berkelanjutan. Melalui kolaborasi pentahelix, pemerintah berharap desa wisata di Kaltim berkembang mandiri, menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap percepatan terwujudnya generasi emas Indonesia.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *