LOCERITA.CO- Setelah bergabungnya Partai Persatuan Pembangunan masuk ke Koalisi Emas H.Rudy Mas’ud – Seno Aji, praktis peluang Isran Noor- Hadi Mulyadi (Isran-Hadi) semakin tipis, sisa PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat.
Walaupun Safaruddin ketua PDIP Kaltim berulang kali menyatakan arah dukungannya kepada petahana, namun sampai detik ini Partai besutan Megawati Soekarno Putri belum mengeluarkan rekomendasi untuk Pilgub Kaltim tahun 2024.
Nampaknya PDIP tidak mau gegabah untuk menentukan arah dukungannya, termasuk bisa saja ada syarat yang harus di tunaikan Isran-Hadi jika ingin mendapatkan dukungan Banteng.
Bersamaan dengan itu ada suara suara senyap bermunculan, menjadi wajar jika PDI-P menimbang untuk memajukan kadernya sebagai Calon Wakil Gubernur untuk berpasangan dengan Isran Noor.
Jika spekulasi itu benar, mau tidak mau Isran Noor perlu berfikir keras dalam posisi yang cukup terdesak jika memang ada opsi demikian, Ia harus rela untuk melepas Hadi Mulyadi dan menerima pinangan baru.
Apalagi jika wakil yang ditawarkan PDIP punya elektabilitas yang lebih tinggi dan bisa di pertimbangkan secara empiris, justru akan menjadi faktor pendukung yang signifikan untuk mendulang suara dan memaksimalkan penguasaan teritori wilayah.
Ada beberapa nama yang potensial muncul dari kader PDIP, pertama adalah Safaruddin Ketua PDI Perjuangan Kaltim Sekaligus Anggota DPR RI, Rusmadi Wakil Walikota Samarinda, Ketiga Edi Damansyah Bupati Kutai Kartanegara.
Untuk Safaruddin sepertinya kurang berminat untuk di calonkan, beberapa saat lalu beredar Foster di media sosial dimana memuat gambar Isran Noor berpasangan Syafarudin untuk Pilgub Kaltim serta foto kedua tokoh tersebut berjumpa di satu Mall, isu itu dengan cepat menyebar kemudian segera di tepis oleh orang orang PDI-P sendiri yang menampik Bahwa Safaruddin akan mendampingi Isran Noor dalam Pilgub Kaltim 2024.
Bagaimana dengan Rusmadi, Rusmadi sendiri sudah pernah mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur berpasangan dengan Safaruddin pada Pilgub Kaltim tahun 2018 dimana hasilnya cukup baik menjadi runner up dengan perolehan suara 324.426 sedangkan Isran-Hadi sebagai pemenang memperoleh suara 417.711, terjadi sehingga selisih suara 93.485.
Bagaimana hasil berdasarkan teritori wilayah, Rusmadi bisa dikatakan mewakili suara kota Samarinda sebagai basis intinya, peroleh suara pasangan Syafaruddin-Rusmadi di kota Samarinda 73.746 sedangkan Isran-Hadi unggul dengan perolehan 113.372, selisih 39.626.
Syafaruddin- Rusmadi dapat unggul dari Isran Hadi di Kota Balikpapan dengan perolehan suara 83.491, sedangkan Isran-Hadi 68.647, selisih 14.844.
Isran Hadi dari 10 kabupaten Kota paling unggul di Kota Samarinda dengan perolehan suara 113.372, sehingga Isran-Hadi punya pengalaman yang baik dalam penguasaan teritori di wilayah Kota Samarinda.
Ketiga Edi Damansyah Bupati Kutai Kartanegara, terlepas dari fokusnya akan kembali maju di Pilkada Kukar tahun 2024 mendatang, tapi nama Edi Damansyah beberapa kali muncul dalam survey sebagai Calon Wakil Gubernur Kaltim, Dalam hasil survei elektabilitas Pilkada Kaltim 2024 yang dirilis lembaga Research and Strategy alias ARCHY, Edi Damansyah masuk deretan 6 besar teratas di lansir dari Tribunkaltim.co.
Sebagai gambaran Edi Damansyah berpasangan Rendi Solihin pada Pilkada Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2020 lalu memperoleh suara yang signifikan sebesar 200.632.
Edi Damansyah yang juga Ketua PDI Perjuangan Kabupaten Kutai Kartanegara pada Pemilihan Legislatif tahun 2024 membawa PDI Perjuangan sebagai Pemenang Pemilu di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan capaian 16 Kursi DPRD yang sebelumnya pada Pileg 2019 hanya memiliki 7 kursi DPRD.
Realitas politik seperti ini pasti sangat di fahami oleh Isran-Hadi dan Tim Intinya, tinggal langkah apa yang akan di tempuh. Publik tentu berharap ada kejutan seperti adagium politik yang sering kita dengar “semakin keras pertempuran semakin indah kemenangan”.
Jika meraba Komitmen Isran terhadap Hadi Mulyadi tentu Isran hampir di pastikan tidak akan meninggalkan Hadi Mulyadi walau langit runtuh dan bumi akan terbelah, namun dari sisi Hadi Mulyadi sendiri bukan tidak mungkin akan lebih legowo melihat realitas gelombang politik yang terjadi, namun bukan soal kebesaran hati, kita tahu Hadi Mulyadi sedang berjuang membesarkan Partai Gelora di Kalimantan Timur, tanpa backup kekuasaan tentu akan berat memajukan Partai Gelora kedepan. Sehingga perlu timbang timbang lagi berbagai opsi opsi politik untuk menentukan langkah yang tepat.
Selain PDIP Harapan terakhir Isran-Hadi adalah dukungan Partai Berlambang Mercy, Partai Demokrat pun nampaknya belum kokoh mendukung Isran-Hadi, apakah sudah mengeluarkan surat Rekomendasi atau hanya surat tugas saja untuk konsolidasi.
Jika sudah surat Rekomendasi artinya tinggal menunggu Rekomendasi PDI Perjuangan, namun jika baru surat tugas besar kemungkinan masih bisa beralih, karena Tim Calon Gubernur Dan Wakil Gubernur H Rudy Mas’ud – Seno Aji pun gencar melakukan pendekatan untuk mengajak Partai Demokrat dalam koalisi besarnya namun pucuk pimpinan Demokrat belum bergeming.
Kita pun Menduga bahwa ada pula syarat yang di ajukan Partai Demokrat pada Isran-Hadi yang itu belum menemui kesepakatan kesepakan strategis. Kita tahu bahwa Isran Noor dahulu adalah kader Parta Demokrat di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan memiliki kedekatan dengan SBY, namun kemudian Isran pindah ke Partai Gerindra dan menjadi Ketua Gerindra Kaltim, pindah lagi ke Partai Nasdem, Nah, apakah kedepan akan pindah lagi ke Partai PDIP, kita tunggu saja langkah langkah kuda yang akan terjadi.
(Redaksi)













