Scroll untuk baca artikel
BERITA VIRALLIFESTYLE

Cristiano Ronaldo, Si Raja Midas di Atas Rumput Hijau

969
×

Cristiano Ronaldo, Si Raja Midas di Atas Rumput Hijau

Sebarkan artikel ini
Cristiano Ronaldo CR7 / IST

LOCERITA.CO – Di bawah lampu sorot stadion yang benderang, ketika ribuan pasang mata tertuju pada satu titik, Cristiano Ronaldo tidak sekadar berlari. Ia sedang menenun realitas. Dalam setiap ayunan kakinya, ada getaran yang melampaui statistik gol atau trofi. Jika mitologi Yunani mengenal Raja Midas yang mampu mengubah segala yang disentuhnya menjadi emas, maka dunia modern memiliki Ronaldo seorang pria dari Madeira yang mengubah keringat menjadi kemuliaan, dan tekanan menjadi keabadian.

Namun, daya tarik Ronaldo bukanlah sihir hitam yang muncul dari ruang hampa. Itu adalah alkimia jiwa yang kompleks, sebuah manifestasi dari kehendak manusia yang paling murni.

Sentuhan Midas Bukan Kutukan, Melainkan Karunia Kehendak

Raja Midas dalam mitos sering kali dianggap sebagai peringatan akan ketamakan. Namun, dalam konteks Cristiano Ronaldo, “Sentuhan Midas” adalah metafora bagi efisiensi dan keunggulan absolut. Apa pun yang disentuh Ronaldo bola di lapangan, merek pakaian dalam, rantai hotel, hingga algoritma media sosial semuanya berubah menjadi “emas”.

Secara filosofis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui kacamata Friedrich Nietzsche tentang Der Ubermensch (Manusia Unggul). Nietzsche berpendapat bahwa manusia harus melampaui nilai-nilai konvensional dan menciptakan makna mereka sendiri melalui “Kehendak untuk Berkuasa” (Will to Power). Ronaldo adalah personifikasi hidup dari konsep ini. Ia tidak menunggu nasib memberikan bintang kepadanya, ia menaklukkan nasib itu sendiri. Ia tidak menerima batas-batas biologis penuaan, ia melampauinya dengan disiplin yang hampir bersifat religius.

Eksistensialisme di Titik Putih

Jean-Paul Sartre pernah berujar, “L’existence précède l’essence” (Eksistensi mendahului esensi). Manusia lahir tanpa tujuan, dan melalui tindakannya, ia mendefinisikan siapa dirinya. Ronaldo memulai hidupnya sebagai bocah kurus dengan masalah jantung dan kemiskinan yang mencekik di Madeira. Secara “esensi” sosial, ia tidak ditakdirkan untuk menjadi raja.

Namun, melalui sepak bola, Ronaldo melakukan tindakan eksistensial. Ia memilih untuk menjadi “Yang Terbaik”. Setiap sesi latihan tambahan di tengah malam, setiap penolakan terhadap makanan manis, dan setiap tetes keringat adalah batu bata yang ia susun untuk membangun esensinya sendiri. Bintang tidak dilahirkan, bintang dikonstruksi melalui repetisi yang menyakitkan.

Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menyatakan bahwa “Keunggulan bukanlah sebuah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.” Ronaldo mengubah sepak bola dari sekadar permainan menjadi sebuah ritus kebajikan (Arete). Bagi Ronaldo, mencetak gol bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi logis dari karakter yang telah ia tempa selama puluhan tahun.

Dialektika Antara Bakat dan Disiplin

Sering kali dunia membandingkan Ronaldo dengan Lionel Messi dalam dialektika antara “Bakat Alam” versus “Kerja Keras”. Dalam pandangan filsafat Immanuel Kant mengenai estetika, Messi mungkin dianggap sebagai perwujudan dari The Beautiful (keindahan yang harmonis dan alami). Namun, Ronaldo adalah perwujudan dari The Sublime (keagungan yang dahsyat dan menggentarkan).

Keagungan (Sublimity) menurut Kant muncul ketika kita melihat sesuatu yang begitu besar dan kuat sehingga akal budi kita merasa kewalahan namun sekaligus terpesona. Melihat Ronaldo melompat setinggi 2,5 meter untuk menyundul bola, atau melihat otot-ototnya yang menegang saat melakukan tendangan bebas, memberikan perasaan sublime. Itu adalah kemenangan akal budi dan kerja keras atas keterbatasan fisik manusia.

Ronaldo membuktikan teori filsafat Stoikisme. Marcus Aurelius dan Epictetus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dalam pengendalian atas apa yang bisa kita kendalikan. Ronaldo tidak bisa mengendalikan sorakan ejekan suporter lawan, ia tidak bisa mengendalikan keputusan wasit, tetapi ia memiliki kendali absolut atas tubuhnya sendiri. Inilah yang membuatnya menjadi “Raja Midas”, kemampuannya untuk mengolah elemen internal yang ia miliki menjadi hasil eksternal yang gemilang.

Mitos Sisyphus dan Keabadian yang Terus Berulang

Albert Camus, dalam esainya The Myth of Sisyphus, menggambarkan seorang pria yang dikutuk untuk mendorong batu besar ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali ke bawah, selamanya. Camus berpendapat bahwa Sisyphus menjadi bahagia ketika ia menyadari bahwa perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia.

Ronaldo, di usianya yang sudah melewati senja bagi atlet profesional, tetap mendorong “batunya” ke puncak gunung. Setiap musim baru, setiap kompetisi baru, ia memulai lagi dari nol dengan rasa lapar yang sama. Ia tidak berhenti setelah memenangkan lima Ballon d’Or dan tiga puluh enam trofi di berbagai kompetisi . Baginya, setiap pertandingan adalah perjuangan Sisyphus yang penuh makna. Ia menolak untuk menjadi tua dan tidak relevan. Ia melawan waktu musuh terakhir dari semua pahlawan mitologi.

Sang Bintang di Galaksi Kapitalisme

Sebagai ikon global, pengaruh Ronaldo melampaui garis lapangan 100×64 meter. Ia adalah pusat dari sistem tata surya ekonomi baru. Dalam filsafat Postmodernisme, Jean Baudrillard berbicara tentang Simulacra di mana representasi menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Citra “CR7” telah menjadi sebuah entitas yang bahkan lebih besar dari Cristiano Ronaldo sang manusia.

Namun, berbeda dengan selebritas yang hanya menjual citra kosong, “emas” yang dihasilkan Ronaldo berakar pada performa nyata. Ia adalah jembatan antara dunia lama yang menghargai kerja fisik keras dan dunia baru yang menghargai pengaruh digital. Sentuhan Midas-nya memastikan bahwa merek apa pun yang bersanding dengannya akan mendapatkan validasi dari kerja keras yang ia representasikan.

Melampaui Emas, Menuju Cahaya

Cristiano Ronaldo bukan sekadar pemain sepak bola. Ia adalah sebuah eksperimen manusia tentang sejauh mana kehendak bisa membawa seseorang. Ia adalah pengingat bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat potensi alkimia untuk mengubah “timah” kegagalan menjadi “emas” kesuksesan.

Ia diandaikan sebagai Raja Midas bukan karena ia mencintai materi, tetapi karena ia memiliki kapasitas untuk memuliakan segala hal yang ia tekuni. Seperti bintang yang memancarkan cahayanya sendiri melalui fusi yang dahsyat di intinya, Ronaldo bersinar karena ia membakar dirinya sendiri dengan ambisi.

Dunia mungkin akan terus berdebat tentang siapa yang terhebat. Namun, dalam catatan sejarah peradaban, nama Cristiano Ronaldo akan terukir bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan emas hasil tempaan tangannya sendiri. Ia adalah sang pemimpi yang menolak bangun hingga mimpinya menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *