LOCERITA.CO – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Momen unik ini terjadi saat agenda peresmian kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin (12/1/2026). Dalam acara berskala nasional tersebut, Presiden Prabowo menyapa langsung sang Sultan yang hadir sebagai tamu kehormatan di tengah kerumunan pejabat negara.
Presiden Prabowo Subianto awalnya menyapa deretan pejabat tinggi yang hadir di lokasi proyek strategis nasional tersebut. Namun, suasana menjadi sedikit berbeda ketika pandangan Presiden tertuju ke arah tengah ruangan. Prabowo segera mencari keberadaan Yang Mulia Sultan Aji Muhammad Arifin di antara para undangan. Begitu menemukan posisi sang Sultan, Presiden langsung memberikan sapaan hangat dan penuh rasa hormat dari atas podium kehormatan.
Kamera acara segera menyorot ke arah tengah ruangan begitu Presiden memanggil nama pemimpin adat tersebut. Sultan Aji Muhammad Arifin yang mengenakan pakaian batik gelap dengan penutup kepala khas Kutai langsung berdiri dari kursinya. Beliau memberikan gestur hormat yang sangat santun sebagai balasan atas sapaan hangat dari kepala negara. “Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Hadir? Oh… Yang Mulia,” ujar Prabowo dengan nada suara yang berwibawa namun tetap rendah hati.
Protes Spontan Prabowo Mengenai Posisi Duduk Sultan Kutai
Ketajaman mata Presiden Prabowo Subianto segera menangkap sebuah kejanggalan dalam pengaturan tempat duduk tamu undangan. Presiden menyadari bahwa Sultan Aji Muhammad Arifin tidak menempati barisan paling depan. Padahal, barisan depan biasanya terisi oleh jajaran menteri kabinet dan pejabat tinggi negara lainnya. Sultan justru tampak berada di barisan tengah atau sedikit ke arah belakang dari panggung utama acara.
Melihat kondisi tersebut, Presiden Prabowo langsung melayangkan protes secara spontan kepada pihak panitia penyelenggara acara. Beliau merasa penempatan kursi untuk pemimpin kesultanan tertua di Indonesia tersebut kurang tepat. “Sultan kok ditaruh di belakang? Taruh di depan!” tegas Prabowo sambil menunjuk ke arah barisan kursi depan yang masih memiliki ruang. Instruksi mendadak ini menunjukkan betapa Presiden sangat menghargai tokoh adat dan sejarah nusantara.
Aksi spontan Presiden ini mengundang reaksi positif dari banyak pihak yang menyaksikan acara melalui siaran langsung maupun secara luring. Sikap Prabowo menegaskan bahwa protokol kenegaraan harus selaras dengan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal. Beliau menginginkan tokoh penting daerah mendapatkan tempat yang selayaknya dalam setiap agenda kenegaraan di wilayah tersebut.
Sorotan Remaong Kutai Menamang Terhadap Protokol Kepresidenan
Meskipun Presiden sudah memberikan teguran, insiden penempatan duduk ini tetap memicu kritik dari tokoh masyarakat setempat. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) organisasi masyarakat Remaong Kutai Menamang (RKM) Kutai Kartanegara, Moch Saddam Jordi, angkat bicara. Ia sangat menyayangkan kelalaian tim protokol kepresidenan dalam mengatur posisi duduk Sultan Aji Muhammad Arifin pada momen penting tersebut.
Saddam Jordi menilai bahwa tim protokol seharusnya memahami struktur sosial dan nilai historis di Kalimantan Timur. Penempatan Sultan di barisan belakang ia anggap sebagai tindakan yang tidak mencerminkan rasa hormat. Menurutnya, Kesultanan Kutai merupakan simbol martabat yang sangat sakral bagi masyarakat asli daerah. “Ini sangat disayangkan. Sultan Kutai Kartanegara adalah simbol adat, sejarah, dan kehormatan masyarakat Kutai,” tegas Jordi kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa sebagai kerajaan tertua di Nusantara, Kesultanan Kutai memiliki kedudukan istimewa yang melampaui sekadar jabatan administratif. Kehadiran Sultan dalam peresmian kilang RDMP Balikpapan membawa pesan dukungan masyarakat adat terhadap kemajuan industri nasional. Oleh karena itu, Saddam Jordi menuntut agar kejadian serupa tidak terulang kembali pada kunjungan-kunjungan kerja Presiden di masa depan.
Pentingnya Menjaga Simbol Kehormatan Sejarah Nusantara
Pihak RKM Kukar menekankan bahwa penghormatan terhadap Sultan adalah bagian dari menjaga marwah bangsa. Jordi mengingatkan semua pihak bahwa Kalimantan Timur merupakan wilayah yang kaya akan akar sejarah kerajaan yang kuat. Ia berharap panitia acara nasional lebih teliti dan sensitif terhadap keberadaan tokoh-tokoh kunci daerah yang memiliki pengaruh besar secara sosiokultural.
Langkah spontan Presiden Prabowo yang meminta pemindahan kursi Sultan mendapat apresiasi dari Jordi, namun tetap menyisakan catatan bagi para pelaksana di lapangan. Menurutnya, kesadaran akan nilai sejarah harus tertanam dalam setiap perencanaan acara kenegaraan. Hal ini penting agar sinergi antara pemerintah pusat dan tokoh daerah tetap terjaga dengan harmonis di tengah pembangunan IKN dan proyek strategis lainnya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh birokrasi mengenai pentingnya adab dalam protokol resmi. Menempatkan tokoh adat pada posisi terhormat bukan sekadar masalah formalitas, melainkan bentuk pengakuan nyata terhadap jati diri bangsa. Masyarakat Kutai berharap agar ke depannya, kedudukan Sultan selalu mendapatkan porsi utama dalam setiap seremoni resmi di tanah Kalimantan.
(Redaksi)













