Samarinda, Locerita.co – Festival Kampung Ketupat yang digelar perdana di kawasan Samarinda Seberang dinilai menjadi momentum strategis untuk mengangkat potensi wilayah tersebut sebagai destinasi wisata budaya dan ekonomi kerakyatan.
Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, mengapresiasi penyelenggaraan festival yang menampilkan kearifan lokal dan tradisi masyarakat ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bisa menjadi tonggak pengembangan ekonomi berbasis komunitas jika ditindaklanjuti secara konsisten dan terencana.
“Kita lihat, antusiasme warga sangat besar. Ini menandakan bahwa masyarakat haus akan kegiatan yang mengangkat jati diri lokal,” ujar Samri Jumat (23/5/2025}.
Namun, ia mengingatkan bahwa potensi tersebut harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan dukungan nyata dari pemerintah. Persoalan mendasar seperti keterbatasan akses jalan, kurangnya fasilitas umum, serta belum optimalnya peran UMKM lokal harus segera dibenahi.
“Kalau ingin menjadikan ini sebagai ikon tahunan, penataan kawasan harus jadi prioritas. Jangan sampai festival bagus, tapi pengunjung kesulitan karena aksesnya belum memadai,” tegasnya.
Samri juga menyoroti pentingnya desain acara yang lebih terintegrasi di masa mendatang, dengan melibatkan pelaku seni, budaya, dan ekonomi kreatif secara lebih luas.
Menurutnya, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari keramaian, tetapi dari dampak langsung bagi pelaku usaha kecil.
“Yang paling penting, warga dapat manfaat ekonomi. Jangan hanya euforia sesaat,” imbuh politisi dari Partai NasDem ini.
Ia pun berharap Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan festival ini ke depan, termasuk melalui penyusunan anggaran khusus agar tidak hanya mengandalkan partisipasi swadaya.
“Komitmen anggaran dari pemerintah itu penting. Kalau ingin berkelanjutan, jangan hanya seremonial. Harus ada desain jangka panjang,” ucapnya.
Samri menegaskan bahwa Samarinda Seberang menyimpan banyak potensi budaya yang belum tergali secara maksimal. Ia mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan kawasan ini sebagai ikon wisata tradisional yang membanggakan.
“Wilayah ini punya sejarah dan karakter. Tinggal bagaimana kita merawat dan mengembangkannya,” pungkasnya.
(Redaksi)













