LOCERITA.CO – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda mengambil langkah tegas pasca insiden tabrakan kapal tongkang batu bara di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Instansi ini melaksanakan evaluasi besar terhadap sistem keselamatan pelayaran di sepanjang alur Sungai Mahakam. Selain itu, KSOP mewajibkan perusahaan pemilik kapal untuk menanggung penuh seluruh kerusakan infrastruktur jembatan yang timbul akibat kecelakaan tersebut.
Kepala KSOP Kelas I Samarinda, Mursidi, menyampaikan hal tersebut setelah memimpin rapat koordinasi lintas instansi di Samarinda, Rabu (28/1/2026). Pertemuan strategis ini menghadirkan perwakilan Dinas PUPR Kalimantan Timur, Ditpolairud Polda Kaltim, Pelindo, DPRD Kaltim, hingga Dinas Perhubungan Provinsi Kaltim. Seluruh pihak sepakat bahwa aspek keselamatan pelayaran memerlukan perbaikan segera demi melindungi aset negara.
Perusahaan Penabrak Wajib Ganti Rugi Kerusakan Jembatan Mahulu
Mursidi menjelaskan bahwa fokus utama rapat tersebut adalah menindaklanjuti insiden yang terjadi pada pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, pihak perusahaan penabrak menyatakan kesiapan mereka untuk mengganti seluruh kerugian. Komitmen ini menjadi poin krusial mengingat Jembatan Mahulu merupakan urat nadi transportasi darat di Kalimantan Timur.
Berdasarkan data teknis, insiden terbaru terjadi pada 25 Januari 2026. Sebuah tongkang bermuatan batu bara kembali menyenggol pilar jembatan dan menambah panjang daftar kecelakaan di lokasi yang sama. Catatan KSOP menunjukkan bahwa pengaman pilar atau fender Jembatan Mahulu telah mengalami tiga kali benturan dalam waktu singkat.
Rentetan tabrakan tersebut bermula pada 23 Desember 2025, berlanjut pada 4 Januari 2026, dan puncaknya pada akhir Januari 2026. Akibatnya, sistem pengaman jembatan atau fender kini hilang atau mengalami kerusakan yang sangat parah. KSOP bersama dinas terkait akan segera menghitung nilai nominal kerugian yang harus perusahaan bayar secara penuh.
Strategi Evaluasi Pelayaran Jembatan Mahulu Selama 24 Jam
Meskipun rentetan insiden mengkhawatirkan publik, KSOP Kelas I Samarinda menjamin aktivitas logistik di Sungai Mahakam tidak akan berhenti. Mursidi memastikan pelayaran tetap berjalan normal, termasuk proses pengolongan tongkang di bawah Jembatan Mahulu. Sebagai solusi, pihaknya kini tengah menyiapkan skema evaluasi pelayaran Jembatan Mahulu agar sistem pemanduan dapat berlangsung selama 24 jam penuh.
Penerapan sistem ini bertujuan untuk mengurai kepadatan lalu lintas sungai. Mursidi berpendapat bahwa kapal tetap bisa melintas baik saat kondisi air pasang maupun surut, selama kondisi teknis memungkinkan. Kedalaman alur Sungai Mahakam saat ini masih sangat mencukupi untuk mendukung mobilitas kapal-kapal besar dengan pengawasan ketat.
Langkah ini juga menjadi jawaban atas persoalan penumpukan kapal yang sering terjadi. Selama ini, pembatasan jam operasional justru menciptakan antrean panjang di sejumlah titik. Kapal-kapal yang menunggu terlalu lama seringkali bertambat pada area yang tidak resmi atau buoy yang tidak terekomendasi. Kondisi ini sangat berisiko karena tali tambat bisa putus sewaktu-waktu, menyebabkan kapal hanyut, dan akhirnya menabrak pilar jembatan.
Penertiban Tambatan Liar dan Penguatan Sistem Pemanduan Kapal
Selain mengubah jadwal operasional, KSOP juga menggandeng Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolair) Polda Kaltim. Kerja sama ini bertujuan untuk menertibkan tambatan-tambatan liar di sepanjang jalur sungai. Aparat penegak hukum akan membantu KSOP membersihkan area labuh ilegal yang selama ini menjadi pemicu utama kecelakaan pelayaran.
Saat ini, terdapat sekitar 10 hingga 18 titik tempat labuh tidak resmi di kawasan menuju Jembatan Mahulu. KSOP akan melakukan penertiban secara bertahap, mulai dari pemberian imbauan hingga tindakan hukum yang tegas. Mursidi menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan tempat labuh akan menjamin keselamatan bersama.
Sebagai penguatan tambahan, KSOP mengevaluasi kinerja Badan Usaha Pelabuhan (BUP) terkait sistem pemanduan. Pihaknya berencana menambah jumlah kapal tunda (assist tug) untuk mengawal setiap tongkang yang melintas. KSOP juga mendorong penerapan “fender hidup”, yakni sistem pengamanan aktif menggunakan kapal tunda untuk menjaga posisi tongkang agar tetap berada di jalur aman. Pengamanan aktif ini sangat penting, terutama saat kondisi fender permanen jembatan sedang dalam masa perbaikan.
Dengan berbagai langkah konkret ini, KSOP berharap risiko kecelakaan di masa depan dapat berkurang secara signifikan. Keselamatan pelayaran di Sungai Mahakam tetap menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas ekonomi di Kalimantan Timur.
(Redaksi)













