Scroll untuk baca artikel
BERITA VIRALLIFESTYLE

Siapa Bilang Harus Makan Tiga Kali Sehari? Ternyata Cuma Kebiasaan, Bukan Aturan Alam!

175
×

Siapa Bilang Harus Makan Tiga Kali Sehari? Ternyata Cuma Kebiasaan, Bukan Aturan Alam!

Sebarkan artikel ini

LOCERITA CO- Pernah kepikiran nggak, kenapa kita wajib banget sarapan pagi, makan siang, dan makan malam? Seolah-olah itu aturan baku dari langit. Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, pola makan tiga kali sehari ternyata bukan hukum alam—tapi hasil dari budaya dan sejarah manusia.

Bayangin zaman manusia prasejarah. Mereka nggak punya jadwal makan tetap. Nggak ada yang namanya “sarapan sehat jam 7 pagi” atau “makan malam bareng keluarga.” Mereka makan sesekali — saat berhasil berburu atau nemu buah di hutan. Makan itu soal keberuntungan, bukan rutinitas.

Sejarawan makanan Charrington-Hollins menjelaskan bahwa masyarakat Yunani Kuno-lah yang pertama kali mengenalkan konsep sarapan — roti yang dicelup ke anggur. Tapi waktu itu, sarapan cuma buat kaum bangsawan, bukan rakyat biasa.
Baru di abad ke-17, saat Eropa mulai kaya dan santai, sarapan jadi semacam gaya hidup mewah. Dan ketika Revolusi Industri datang di abad ke-19, muncullah kebiasaan makan tiga kali sehari — disesuaikan dengan jam kerja pabrik.

“Pekerja butuh energi di awal hari, istirahat di tengah, dan makan besar setelah pulang kerja,” kata Charrington-Hollins.

Begitulah, jadwal makan “pagi–siang–malam” lahir bukan dari kebutuhan biologis, tapi dari kebutuhan industri.

Setelah perang dunia, makanan jadi langka. Banyak orang melewatkan sarapan. Pola tiga kali sehari sempat hilang. Baru di tahun 1950-an, dengan munculnya iklan sereal dan roti bakar, konsep “sarapan penting” kembali hidup—lebih karena marketing ketimbang kebutuhan tubuh.

Peneliti nutrisi modern bilang, tubuh manusia fleksibel banget. Kita bisa tetap sehat dengan dua kali makan, atau bahkan satu kali sehari, asalkan gizinya cukup dan jam makannya konsisten.

“Tubuh bekerja dalam pola,” kata Anderson, ahli nutrisi. “Kalau kita punya ritme makan yang teratur, sistem biologis kita akan menyesuaikan.”

Makanya, tren seperti puasa intermiten (intermittent fasting) makin populer. Orang-orang menunda makan pagi, mempercepat makan malam, dan tubuh tetap baik-baik saja—bahkan lebih bugar.

Sekarang, makin banyak orang sadar bahwa “normal” dalam urusan makan itu relatif. Gaya hidup modern yang lebih santai dan pekerjaan yang fleksibel bikin kebutuhan kalori juga berubah.

“Selama berabad-abad, kita terbiasa makan tiga kali sehari, tapi kebiasaan ini mulai berubah,” ujar Charrington-Hollins.

Jadi, kalau kamu cuma makan dua kali sehari, nggak usah panik. Itu bukan gaya hidup aneh, cuma cara baru tubuhmu beradaptasi dengan zaman.

Yang penting, dengarkan tubuhmu — Karena ternyata, makan itu bukan soal waktu, tapi soal keseimbangan.

Sumber : BBC, Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *