Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Harga Bahan Plastik Naik, Daniel Johan Dorong Penggunaan Kantong Belanja Reusable

13
×

Harga Bahan Plastik Naik, Daniel Johan Dorong Penggunaan Kantong Belanja Reusable

Sebarkan artikel ini

LOCERITA.CO – Kenaikan harga material plastik saat ini berdampak pada sektor perdagangan dan menambah beban operasional pelaku usaha kecil.

Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menilai situasi ini merupakan momentum bagi masyarakat untuk membiasakan diri membawa kantong belanja mandiri. Menurutnya, perubahan pola konsumsi dapat mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai di tengah ketidakpastian harga global.

Daniel menjelaskan bahwa harga bahan plastik sangat dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok internasional. Saat ini, ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor masih mencapai 60 persen.

Data per April 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga bahan baku impor sebesar 30 hingga 80 persen, yang secara otomatis meningkatkan biaya produksi di dalam negeri.

Ketergantungan Bahan Baku Impor Memicu Kenaikan Harga

Struktur ekonomi yang masih bergantung pada material berbasis fosil membuat sektor domestik rentan terhadap perubahan pasar eksternal.

Daniel berpendapat bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah kenaikan biaya produksi, melainkan sinyal untuk memperkuat ekosistem material alternatif. Ia mendorong masyarakat untuk mulai menggunakan barang yang dapat dipakai ulang, seperti wadah makanan dan tas belanja kain.

Langkah adaptasi ini dinilai efektif untuk menekan permintaan terhadap plastik sekali pakai saat harga bahan plastik melonjak.

Selain perubahan perilaku, Daniel menekankan pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui optimalisasi bank sampah di tingkat warga. Ia memandang bank sampah sebagai infrastruktur penyedia bahan baku sekunder yang dapat membantu menstabilkan ketersediaan material industri.

Pentingnya Penguatan Sistem Daur Ulang Nasional

Jika sistem daur ulang berjalan optimal, plastik bekas dapat masuk kembali ke rantai produksi secara lebih besar. Hal ini akan mengurangi kebutuhan terhadap bahan baku primer yang harganya terus bergejolak.

Daniel juga mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan regulasi dan insentif investasi bagi produsen yang beralih ke kemasan ramah lingkungan agar transisi berjalan maksimal.

Di sisi lain, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mencatat bahwa lonjakan harga bahan plastik terjadi akibat kelangkaan nafta sebagai input utama manufaktur.

Kenaikan harga di pasar global bahkan sempat menyentuh angka 100 persen. Kondisi ini mencerminkan adanya risiko multimaterial shortage yang juga terjadi pada bahan kimia lain seperti sulfur dan logam.

Dampak Gangguan Pasok pada Kapasitas Produksi

Setijadi menyebutkan bahwa lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri kimia dan petrokimia nasional masih berasal dari luar negeri.

Gangguan pasok ini menyebabkan waktu tunggu (lead time) produksi menjadi lebih lama dan menekan kapasitas pabrik. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan konsumsi akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Pemerintah dan pelaku industri diharapkan segera merumuskan langkah antisipasi untuk menjaga kontinuitas produksi nasional. Daniel Johan menambahkan bahwa transformasi menuju kemasan berkelanjutan memerlukan kepastian pasar agar pelaku usaha tidak terbebani secara mandiri.

Kesadaran kolektif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi salah satu solusi jangka pendek yang relevan dilakukan masyarakat saat ini.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *