LOCERITA CO –Di tengah hiruk pikuk kantor yang sibuk, hiduplah seorang pria bernama Fajar. Ia dikenal sebagai sosok yang teguh memegang prinsip, salah satunya adalah menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis dengan disiplin. Lingkungannya, yang sebagian besar pragmatis dan fokus pada tuntutan kerja, seringkali terheran-heran dengan ketahanan Fajar.
Seperti hari Kamis itu, saat jarum jam belum menunjukkan waktu istirahat, aroma menggoda mulai menyeruak di ruang kerja mereka. Rahman, rekan kerjanya yang ceria, baru saja kembali dari warung di sudut jalan membawa sekantong besar jajanan.
“Jar, ada bala-bala (gorengan) anget nih! Lumayan buat ganjel sebelum makan siang,” tawar Rahman, menyodorkan sekeping gorengan yang baru diangkat.
Fajar tersenyum dan menggeleng lembut. “Terima kasih, Man. Tapi hari ini aku puasa.”
Rahman hanya mengangkat bahu. Tak lama berselang, rekan kerja lain, Sinta, datang dengan sebungkus bihun goreng yang mengepul.
“Nih Fajar, bihunnya Wangi banget. Dicicip sedikit aja, biar nggak terlalu kosong perutnya,” bujuk Sinta.
Lagi-lagi, Fajar menolak dengan sopan dan keteguhan yang sama. Iming-iming gorengan dan bihun, yang bagi kebanyakan orang adalah godaan ringan, berhasil ia lewati dengan mudah.
Waktu menunjukkan pukul 12.00, tanda istirahat makan siang. Rahman dan Sinta, yang sudah menyantap makanan ringan sebelumnya, kini membuka kotak makan siang mereka: Ayam Bakar Madu dengan sambal yang terlihat sangat pedas dan menggugah selera. Aroma rempah dan manisnya madu langsung menyebar, jauh lebih kuat dan menggoda dibanding gorengan atau bihun.
“Jar, serius nih? Kali ini ayam bakar lho. Wangi banget!” goda Rahman, menyendok sepotong kecil daging ayam.
Fajar, yang sebelumnya begitu teguh menolak dua tawaran, tiba-tiba terdiam. Matanya tak lepas dari potongan ayam bakar di tangan Rahman. Wajahnya menunjukkan perjuangan batin yang nyata. Setelah menarik napas panjang, Fajar akhirnya berkata,
“Baiklah… kalau yang ini, sepotong saja ya? Nanti aku ganti.”
Rahman dan Sinta saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka menyerahkan sepotong paha ayam bakar kepada Fajar.
“Hahaha! Ketahuan, Jar!” seru Rahman sambil tertawa geli. “Ternyata, imannya kawan kita ini tingkatannya adalah Ayam Bakar!”
Perkataan Rahman menjadi bahan gurauan hari itu. Namun, bagi Fajar, itu adalah cambuk halus yang menyentak kesadarannya.
Refleksi Hikmah
Peristiwa “Ayam Bakar” itu menjadi cermin bagi Fajar dan rekan-rekannya tentang hakikat keimanan dan daya tahan manusia. Setiap orang memiliki ambang batas atau titik lemah yang berbeda. Bagi Fajar, yang mampu menahan godaan kecil (gorengan dan bihun), ternyata menyerah pada godaan yang lebih besar dan mewah (ayam bakar).
Hal ini sejalan dengan pandangan dalam Teori Kualitas Sosial (Social Quality Theory) yang menekankan bahwa Kualitas hidup sosial seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu memenuhi kebutuhan dan menghadapi tantangan hidup dengan integritas, sekaligus tetap terintegrasi dalam komunitasnya.” Ujian hidup baik berupa godaan kecil maupun besar merupakan instrumen alami untuk menyingkap kualitas sejati ini.
Iman, atau keyakinan, bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan daya tahan (resilience) terhadap berbagai ujian dan iming-iming yang datang.
Secara umum, manusia akan diuji oleh tiga pilar utama:
Harta (kekayaan dan materi).
Tahta (kekuasaan dan jabatan).
Cinta (nafsu dan hubungan duniawi).
Setiap ujian ini datang dalam tingkatan yang berbeda. Gorengan adalah ujian kelas teri. Bihun adalah ujian kelas menengah. Namun, Ayam Bakar adalah ujian selera yang lebih tinggi, yang mampu meruntuhkan keteguhan yang sudah dibangun. Dari sana, akan nampak kualitas iman seseorang. Apakah dia hanya level “ayam bakar,” yang mudah goyah oleh kenikmatan dunia yang lebih tinggi, ataukah dia memiliki keimanan sejati yang tak tergoyahkan oleh segala jenis godaan?
“Boleh kamu mengaku beriman, tapi Saya akan uji. Boleh kamu mengaku mampu, tapi Saya akan uji.”
Sebab, Tuhan berfirman (yang maknanya): Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al-‘Ankabut: 2-3).
Integritas sejati tidak diuji saat kita menolak yang kecil, tetapi saat kita menghadapi yang besar dan paling kita inginkan.
“It is not our abilities that show what we truly are. It is our choices.”
–Albus Dumbledore, Harry Potter and the Chamber of Secrets
Jangan pernah meremehkan ujian sekecil apapun, karena seringkali titik lemah tersembunyi kita baru terungkap saat godaan yang paling kita sukai hadir di hadapan mata. Keimanan sejati adalah ketahanan yang konsisten, bukan hanya pada hal yang mudah kita tolak, melainkan pada hal yang paling sulit kita lepaskan.
(Redaksi)













