LOCERITA.CO, JAKARTA — Kalau ada istilah “kalah jadi abu, menang jadi arang”, tampaknya itu tidak berlaku untuk Patrick Kluivert. Meski gagal membawa Timnas Indonesia bersinar di Kualifikasi Piala Dunia 2026, mantan bintang Barcelona itu justru melangkah pergi sebagai “pengangguran paling tajir” di sepak bola nasional.
Setelah sembilan bulan kerja dan hasil yang jauh dari ekspektasi, PSSI resmi berpisah dengan Kluivert melalui mekanisme mutual termination alias sepakat berpisah baik-baik.
Namun di balik istilah diplomatis itu, tersimpan satu fakta menarik: pelatih asal Belanda ini pulang bukan dengan tangan kosong.
Dengan gaji berkisar Rp1,3 hingga Rp1,5 miliar per bulan, dan sisa kontrak sekitar 14 bulan lagi, Kluivert diperkirakan tetap mengantongi kompensasi miliaran rupiah. Belum lagi staf pelatihnya yang juga ikut “pensiun dini”. Kalau dijumlah, angka yang berputar bisa tembus puluhan miliar rupiah — cukup untuk hidup tenang sambil menyeruput kopi di Amsterdam.
Publik pun mulai melontarkan perumpamaan pedas: “Kluivert ibarat tim sukses pilkada — walau calonnya kalah, tapi tetap dapat bagian.” Dalam konteks ini, Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia, tapi sang pelatih tetap tersenyum di bank. Ironi yang mewah dalam dunia sepak bola.
Namun, di balik satire itu ada pelajaran penting bagi sepak bola Indonesia. Kekalahan tidak boleh membuat sistem berhenti belajar. Kita butuh pelatih yang bukan hanya punya nama besar, tapi juga paham konteks lokal — memahami karakter pemain Asia Tenggara, atmosfer liga domestik, dan cara menumbuhkan mental juara dari ruang ganti, bukan dari konferensi pers.
Figur seperti Shin Tae-yong, yang membangun disiplin dan semangat nasionalisme di skuad muda, atau pelatih Eropa yang mau turun langsung ke lapangan dan “berkeringat bersama pemain”, bisa menjadi acuan. Karena sepak bola Indonesia tidak butuh bintang tamu, tapi pembangun pondasi.
Langkah PSSI untuk berpisah secara damai patut diapresiasi. Selain menghindari beban finansial yang lebih besar, keputusan ini membuka jalan bagi era baru di mana seleksi pelatih harus lebih strategis, bukan sekadar sensasional.
Kini, bola ada di tangan PSSI — harfiah dan maknawi. Apakah federasi akan memilih pelatih yang benar-benar membangun, atau kembali tergoda dengan nama besar berbiaya fantastis?
Sementara itu, Patrick Kluivert mungkin sudah menikmati sarapan tenang di Belanda, sambil menatap saldo rekening yang gemuk. Ia datang, mencoba, gagal… tapi tetap menang — setidaknya di sisi finansial.
Karena di dunia sepak bola, sama seperti politik, kadang yang kalah di lapangan justru tetap keluar sebagai pemenang di rekening.
(Redaksi)













