LOCERITA CO – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melontarkan kritik keras terhadap keberadaan buzzer media sosial yang tetap aktif menyerang pihak lain di tengah situasi bencana. Megawati menilai tindakan tersebut menunjukkan krisis empati dan mengabaikan nilai kemanusiaan saat masyarakat sedang menghadapi musibah.
Megawati menyampaikan kritik itu dalam Seminar Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban yang digelar DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Jumat (19/12/2025). Dalam forum tersebut, Megawati mengajak seluruh pihak untuk menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas utama ketika bencana terjadi.
Ia menegaskan bahwa ruang publik seharusnya diisi dengan solidaritas dan kerja nyata, bukan narasi saling menyerang demi keuntungan pribadi.
Megawati Kritik Buzzer yang Menyerang di Tengah Musibah
Megawati menyoroti fenomena buzzer yang masih aktif menjelek-jelekkan orang lain saat masyarakat berjuang menghadapi dampak bencana. Ia menyebut perilaku itu tidak mencerminkan sikap berperikemanusiaan.
Menurut Megawati, perbedaan pandangan politik tidak boleh menghapus rasa empati terhadap korban bencana. Ia menyayangkan pihak-pihak yang justru memanfaatkan situasi sulit untuk menyerang dan mencari keuntungan.
“Ada buzzer yang tetap menjelek-jelekkan orang. Kalau ada yang bilang saya cari nama, cari buzzernya siapa. Tanya, kamu punya kemanusiaan atau tidak?” kata Megawati.
Ia menegaskan bahwa bencana bukan momentum untuk membangun citra atau menyerang pihak lain, melainkan waktu untuk menunjukkan kepedulian sosial.
Cerita Pengalaman Turun Langsung ke Lokasi Bencana
Dalam kesempatan itu, Megawati juga membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai Wakil Presiden dan Presiden RI ketika meninjau langsung lokasi bencana. Ia menuturkan peristiwa yang hingga kini masih ia ingat sebagai pelajaran tentang pentingnya kemanusiaan.
Megawati menceritakan peristiwa saat tim menemukan seorang korban yang tersangkut di pohon selama beberapa hari. Banyak orang mengira korban tersebut telah meninggal dunia.
“Saya lihat orang tersangkut di pohon cemara. Sudah empat hari. Saya langsung bilang cepat diangkat,” ujar Megawati.
Setelah proses evakuasi, korban tersebut ternyata masih hidup. Megawati menyebut kejadian itu sebagai pengingat bahwa harapan hidup selalu ada, bahkan dalam situasi paling sulit.
“Alhamdulillah, orang itu masih hidup dan diberi kehidupan oleh Allah,” tambahnya.
Megawati menegaskan bahwa cerita tersebut merupakan pengalaman nyata yang ia saksikan langsung di lapangan.
Sorotan terhadap Budaya Buzzer Berbasis Uang
Megawati kembali menegaskan keprihatinannya terhadap buzzer yang bekerja dengan motif finansial. Ia menilai aktivitas menjelek-jelekkan orang demi uang, terlebih di tengah bencana, sebagai tindakan yang tidak beretika.
Menurut Megawati, ruang digital seharusnya membantu menyebarkan informasi dan semangat solidaritas. Ia menilai buzzer justru merusak nilai tersebut dengan narasi provokatif.
“Jelek-jelekkan orang buat cari duit di tengah bencana itu tidak punya rasa perikemanusiaan,” tegas Megawati.
Ia meminta masyarakat untuk lebih kritis menyikapi informasi di media sosial, terutama saat situasi darurat.
Pesan Tegas Megawati kepada Kader PDIP
Selain mengkritik buzzer, Megawati menyampaikan pesan langsung kepada kader PDI Perjuangan. Ia meminta seluruh kader bekerja ikhlas saat membantu korban bencana.
Megawati menekankan bahwa kerja kemanusiaan tidak boleh dilandasi pencitraan atau kepentingan politik. Ia mengingatkan bahwa membantu korban bencana membutuhkan kesiapan mental dan ketulusan.
“Kalau tidak berani dan tidak ikhlas, jangan. Lebih baik mundur,” kata Megawati.
Ia meminta kader PDIP hadir di tengah masyarakat sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai pencari sorotan.
Bencana sebagai Cermin Nilai Kemanusiaan
Megawati menilai bencana menjadi ujian nyata bagi nilai kemanusiaan semua pihak. Ia menegaskan bahwa sikap seseorang di tengah krisis mencerminkan karakter dan integritasnya.
Menurut Megawati, solidaritas dan empati harus mengalahkan kepentingan politik maupun ekonomi. Ia mengajak semua pihak untuk menghentikan narasi negatif dan fokus pada upaya penyelamatan serta pemulihan korban.
Pernyataan Megawati tersebut kembali menyoroti peran media sosial dalam situasi krisis. Di tengah meningkatnya frekuensi bencana, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu berada di atas kepentingan apa pun.
(Redaksi)













